Siluet Politik
oleh Mario P. Manalu pada 6 Juni 2012 pukul 7:41 ·
(1)
Bertahun-tahun lelaki jangkung berwajah tirus itu mengamati, merenungkan dan akhirnya menarik kesimpulan, dunia politik hanya memiliki satu dalil: tidak ada musuh atau teman yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Sejurus kemudian noktah-noktah hitam bergelayut merunyamkan benaknya.
(2)
“Mengapa dulu saya membiarkan diri ditempa untuk mendengarkan suara hati?”
(3)
Di negerinya, lebih satu dekade yang lalu orang-orang pada mabuk. Mabuk kebebasan. Mabuk janji-janji dan diapun mabuk harapan dan mimpi-mimpi akan masa depan cerah. Semua mabuk setelah menegak koktail bernama demokrasi. Semua sempoyongan ditiup angin reformasi.
(4)
Politik adalah panglima dan ratu pembebasan dalam kandungan demokrasi. Dia mengerti dan percaya, terkesima dan menyingsingkan lengan baju dalam gerak politik.
(5)
Catatan terakhir di diary usangnya: mustahil menjadi politisi handal, mustahil memiliki akses pada sumber kekuasan tanpa siap untuk menyakiti dan disakiti, untuk membunuh dan dibunuh. Politik tetap sama di zaman kerajaan maupun di zaman demokrasi .
(6)
Sebelum menghembuskan nafas terkahir dia sempat berguman “Andai saya tidak pernah dididik dengan moral tinggi, niscaya saya meninggal di Istana Negara”. Hati nurani adalah batu sandungan dalam mengejar karier politik.
Komentar
Posting Komentar