Pain
oleh Richardo Marpaung pada 13 Juli 2012 pukul 13:42 ·
Pain is inevitable, but suffering is optional (Pain-Akatsuki)
Sudah lebih dari satu setengah bulan adikku dirawat di rumah sakit, dengan penyakit yang hingga saat ini belum dapat diketahui dengan pasti apa penyebabnya.
Salah satu gejala penyakitnya yang paling mengganggu adalah allodynia, yakni suatu kondisi medis di mana stimulasi biasa seperti sentuhan jari biasa, dapat mengakibatkan suatu rasa sakit yang amat sangat pada penderitanya.
Hal ini benar-benar mengganggu dan membuat kami semua sedih, karena dengan demikian, adikku akan menangis selama berjam-jam akibat rasa sakit yang amat sangat di sekujur tubuhnya.
Dan, suatu malam ibuku sambil menangis, mempertanyakan, kenapa harus ada rasa sakit di dunia ini.
Well, aku tidak bisa menjawab pada saat itu, dan hanya mampu terdiam.
Benar, untuk apa Allah menciptakan rasa sakit? Sebab tidak ada orang yang ingin mengalami rasa sakit?
Untuk apa Allah menciptakan sistem saraf manusia yang mampu merespon terhadap rasa sakit, bukankah kita akan lebih bahagia apabila tidak ada rasa sakit, apabila tidak ada sistem saraf yang sensitif terhadap stimulasi rasa nyeri?
Sebagai perbandingan, sekitar 60-80% alasan pasien di seluruh dunia datang ke dokter adalah akibat adanya rasa sakit, dan yah, dengan demikian kita memang berasumsi rasa sakit itu benar-benar mengganggu dan benar-benar sangat menyiksa.
Nah jika demikian, apakah Allah ingin manusia tersiksa dan menderita?
Well, seorang teman pernah berkata kepadaku, bahwa Allah menginginkan kita untuk merasakan secuil dari hati-Nya, hati yang terluka karena ditinggalkan berjuta umat manusia yang tidak percaya kepadanya, untuk merasakan bagaimana sedih dan sakitnya ketika kita ditinggal orang yang kita cintai atau untuk merasakan sakit ketika sistem saraf kita terstimulasi. Allah ingin kita ikut ambil bagian dalam luka-Nya.
Entahlah, namun sedikit banyak aku kurang setuju dengan pernyataan tersebut.
Allah seperti apa yang menginginkan kita untuk menderita karena Ia menderita?
Karena jika memang demikian, mengapa Allah datang ke dunia, dan menderita hingga wafat di kayu salib, untuk menebus dosa manusia, dan kemudian membagikan perasaan luka dan sakit itu hanya kepada beberapa manusia tertentu?
Bukankah tidak adil namanya?
Ya, tentu saja tidak adil, karena jika memang demikian sejak awal, mengapa kita tidak diwajibkan untuk menanggung dosa masing-masing, mengapa Allah bersusah payah untuk menebus dosa manusia hanya untuk membagikan rasa sakitnya secara tidak merata? Hanya kepada orang-orang tertentu saja?
Entahlah, namun sedikit banyak, sebenarnya Fisiologi mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Peringatan.
Satu kata sederhana yang bisa merangkum seluruh jawaban pertanyaan tadi.
Rasa sakit merupakan mekanisme fisiologis tubuh untuk memperingatkan bahwa ada yang salah dari sistem kerja organ tubuh, ada bagian yang mengalami kerusakan, atau ada bagian yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Rasa sakit merupakan mekanisme yang umumnya paling awal untuk mengetahui suatu penyakit sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih parah.
Sederhananya, rasa sakit itu penting.
Ya, aneh memang, tapi rasa sakit merupakan hal yang sangat penting.
Bayangkan jika tidak ada rasa sakit. Kita tidak akan menyadari bahwa ternyata sudah ada paku yang menancap selama beberapa jam di kaki kita dan mengakibatkan perdarahan atau infeksi yang dapat mengakibatkan kematian. Atau misalnya dengan rasa sakit yang timbul dari organ di dalam tubuh, jantung, paru, hati, usus, dan sebagainya, tanpa ada rasa sakit , bagaimana kita mengetahui gejala awal penyakit maag, atau tukak lambung, dan ternyata pada saat pemeriksaan, tiba-tiba lambungnya sudah berlubang dan akan langsung mengakibatkan kematian jika tidak ditangani.
Ya, rasa sakit penting sebagai peringatan bagi kita, bahwa kita perlu aware akan sesuatu, bahwa ada sesuatu hal yang harus kita pikir baik-baik dan matang-matang, di balik beberapa hal yang selama ini mungkin kurang kita sadari.
Kita pernah disakiti oleh orang lain, ditinggalkan, dilupakan, atau mungkin dihindari.
Sakit? Ya, tentu saja sakit secara emosional.
Namun demikian, rasa sakit itu menimbulkan rasa awas pada diri kita, menimbulkan kehati-hatian agar kemudian kita tidak mengalami rasa sakit itu lagi, kita tidak mengulangi luka itu lagi. Rasa sakit sebelumnya akan membuat kita lebih dewasa, dan lebih bijaksana dalam bertindak.
Namun, apakah hanya sejauh itu?
Hanya sejauh peringatan kah Allah menciptakan rasa sakit?
Entahlah, namun aku percaya bahwa Allah bukanlah Allah yang menginginkan manusia mengalami sakit dan luka, aku percaya, Allah bukanlah Allah yang senang melihat manusia menderita, menangis dan merasa tersiksa, hanya untuk sekedar dilihat atau diperingatkan.
Allah menginginkan manusia bahagia, itu adalah hal yang sangat kupercayai. Bagaimanapun kodratnya manusia, aku percaya Allah menginginkannya untuk mengejar kebahagiaan dan kedamaian.
Namun, jika memang demikian, mengapa ada rasa sakit?
Rasa terima kasih, itu kata sederhana yang mampu menjawab pertanyaan tadi lebih lanjut.
Berterima kasih untuk rasa sakit? Apakah aku gila berkata demikian?
Tidak, sejauh ini aku belum merasa gila tentunya.
Seberapa sering kita bersyukur atas tubuh yang sehat tanpa rasa sakit?
Seberapa sering kita berdoa mengatakan terima kasih, untuk rasa sakit yang tidak kita rasakan?
Entahlah, aku meragukannya. Rasa sakit memberikan kita perbandingan, antara apa yang disebut dengan sehat dan keadaan sakit tentunya. Perbandingan antara yang lebih baik dan yang lebih buruk. Kesehatan adalah anugerah yang jarang sekali disyukuri , hingga kita merasakan rasa sakit, dan rasa nyeri. Bagaimana kita mampu bersyukur atas adanya cahaya jika kita tidak pernah merasakan rasa gelap?
Ya, rasa sakit terkadang kita butuhkan untuk mengingatkan kita tentang apa yang sesungguhnya telah kita miliki, dan mengajarkan kita untuk menelisik hati kita lebih dalam apakah kita telah bersyukur selama ini untuk kesehatan yang pernah kita miliki. Rasa sakit yang dibuat oleh orang lain mengajarkan kita untuk mensyukuri orang-orang lain yang perduli kepada kita dan tetap berada di samping kita saat kita membutuhkan, serta memperingatkan kita untuk melangkah lebih berhati-hati dan untuk tidak melakukan hal yang sama kepada sesama kita.
Ya, Allah menginginkan kita bahagia, percayalah, Allah tidak bersusah payah menciptakan kita di dunia ini, hanya untuk mengalami rasa sakit, tanpa tujuan. Allah ingin memperingatkan kita bahwa banyak hal yang sebenarnya masih bisa kita syukuri. Ya, banyak hal yang kita miliki namun kita tidak sadari, dan mungkin memang butuh rasa sakit untuk menyadarkan kita.
Dan mungkin lain kali, ketika kita merasakan sakit, daripada mengeluh, mungkin kita seharusnya pertama-tama mensyukuri hal lain yang masih kita miliki.
Komentar
Posting Komentar