SANG PENANTANG SEJATI
Diposkan oleh Teman Saya Mario P. Manalu pada 4 Juli 2012 pukul 5:12
"Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu,lantas apa harga hidup kita ini?" -Pramoedya Ananta Toer-
Saya mengagumi Pram bukan terutama karna capaian-capaiannya dalam literatur, terlbih karna konsistensi pemikiran dan seluruh sikapnya. Dia tak pernah gentar menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari pilihan dan sikapnya. Penjara sekalipun tak mampu membungkamnya.
Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang penulis terbesar yang pernah dimiliki olehIndonesia seperti yang dikatakan oleh Andre Vletchek dan Rosie Indira dalamwawancaranya dengan Mas Pram dimana hasil wawancaranya tersebut dibukukan dengan judul ´Saya Terbakar Amarah Sendirianµ.Pramoedya lahir di Blora, Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925.Ia merupakan anaksulung di keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya seorang pedagangnasi.Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulisdalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karenanama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkanawalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai namakeluarganya. Ia biasa dipanggil oleh adiknya ´Mas Moekµ meskipun hingga kini ia lebihdikenal dengan sebutan Mas Pram atau Pak Pram. Pramoedya menempuh pendidikanpada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuksurat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Bertahun-tahun hidupnya dihabiskan di dalam penjara seperti di dalam penjara kolonial,penjara orde lama dan orde baru. Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikutikelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perangkemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karir militernya dan ketikadipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belandasebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia iamenjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannyaberubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya korupsi, fiksikritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi.Hal ini menciptakan friksiantara dia dan pemerintahan Soekarno. Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulaiberhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaiansurat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa diIndonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkanpemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia,dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa.Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-KomunisTiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan diNusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timurIndonesia.Ketika dituduh terlibat G30S, ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara tanpaproses pengadilan. Meski fisiknya terpenjara, namun dengan pikirannya yang bebas, iatetap menulis dengan berani di dalam penjara. Pada masa penahanan di Pulau Buru(1969-1979), ia telah melahirkan karyanya yang sangat terkenal yaitu Tetralogi Buru yangterdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Jilidpertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanyadiselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudianditerbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.Banyak hasil karyanya yang dilarang dan dibakar oleh pemerintah yang berkuasa padamasa Orde Baru. Hal tersebut sangat menyakiti perasaan Pramoedya Ananta Toer dimanaia tidak mau menulis ulang karyanya lagi. Bagi Pramoedya, menulis merupakan tugaspribadi dan nasional. Ia sebenarnya kasihan melihat orang-orang yang membakar buku-bukunya karena hal tersebut menunjukkan betapa rendahnya budaya orang tersebut.Di Pulau Buru, Pram dan tahanan-tahanan politik lainnya dipaksa melakukan kerja paksadan ia juga menjadi saksi betapa kejamnya tentara-tentara yang menjaga penjara di PulauBuru. Jika ia tidak dimonitor oleh dunia internasional, mungkin ia sudah mati di PulauBuru akibat dibunuh oleh pemerintah yang berkuasa saat itu.
Pramoedya dibebaskan dari penjara Orde Baru pada tanggal 21 Desember 1979 danmendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibatG30S/PKI, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanankota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.Pada tahun 1995, ia menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award yang menimbulkan banyak protes dari 26 sastrawan. Menurut Mochtar Lubis, pada masa DemokrasiTerpimpin Pram merupakan tokoh yang memimpin penindasan sesama seniman yang taksepaham dengannya. Pemberian anugerah tersebut kepada Pramoedya dianggap sebagaisuatu kecerobohan karena Yayasan Magsaysay tidak mengetahui reputasi gelap Pramdahulu.Namun Pramoedya menyangkal semua tuduhan yang kelewat jauh tersebut.Bahkan ia merasa difitnah karena dituduh terlibat dalam pembakaran buku. Ia punmenuntut perkaranya dibawa ke pengadilan jika materinya cukup dan jika tidak cukup, iaminta forum terbuka dengan ketentuan ia boleh menjawab dan melakukan pembelaan
Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderitadiabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.Pada 6 Februari 2006 di Teater KecilTaman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karyaPramoedya.Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya.Pameranbertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yangpernah diterbitkan di mancanegara.Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan keberbagai bahasa dunia.Pramoedya sempat tak sadarkan diri pada tanggal 27 April 2006 dan dibawa ke rumahsakit Saint Carolus, Salemba, Jakarta Pusat.Ia didiagnosis menderita penyakit radangparu-paru ditambah komplikasi jantung, ginjal dan diabetes. Setelah tiga hari melewatimasa kritis, akhirnya Pramoedya menghembuskan nafas terakhirnya tepatnya, padapukul 08.55 tanggal 30 April 2006 di usianya yang ke-81 tahun. Sebelum menemui ajalnyaPram sempat berkata, "Akhiri saja saya.Bakar saya sekarang."
”Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apasaja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai” –Pramodya Ananta Toer—

Komentar
Posting Komentar