BIARLAH WAKTU YANG MENJAWAB... oleh Samuel Manuela pada 6 Januari 2012 pukul 4:21 ·

Sebelumnya sifat manusia yang sekarang ini ada pada kita ternyata sifat itu sudah pernah diyakini hidup disebuah pulau "LIVING ISLAND". Ini berlangsung lama dan tinggal disana sebelum mereka menghuni tubuh manusia, dan lama sekali sebelum kita mengotak-ngotakkannya kedalam istilah baik atau buruk. Pokoknya mereka ada, dengan ciri-cirinya sendiri. Bahkan sifat-sifat tersebut berdiri sendiri sebagaimana manusia. Mungkin itu sebabnya pada akhirnya mereka bersatu. Dipulau tersebut hiduplah Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, dan Kasih Sayang. Sudah barang tentu sifat-sifat yang lain hidup disana juga. Pada suatu hari terdengarlah kabar meluas bahwa pulau LIVING ISLANd tersebut pelan-pelan tenggelam. Ketika sifat-sifat tersebut mendengar berita ini, mereka dilanda kepanikan dan berusa mencari akal untuk bisa bertahan hidup hingga suatu saat bisa menemukan pulau lain yang pernah mereka dengar dari yang satu terhadap yang lain yaitu SOUL ISLAND atau Manuasia sendiri. Mereka berlarian kesana kemari seperti semut yang rumahnya diinjak sampai hancur....dan berusaha menuju pantai Soul Island. Setelah beberapa saat mereka mulai tenang dan merencanakan tindakan positif. Karena hidup di pulau, kebanyakan dari mereka punya perahu, jadi mereka semua memperbaiki perahu mereka dan mengatur pemberangkatan dari pulau. Kasih Sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun-tahun yang lalu. Dia menunda keberangkatannya hingga saat-saat terakhir agar dia bisa membantu orang lain bersiap-siap. Pada akhirnya Kasih Sayang memutuskan bahwa dia harus meminta bantuan. Kemakmuran baru saja berangkat dari dermaga didepan rumahnya yang besar. Perahunya besar sekali, lengkap dengan semua teknologi paling mutakhir dan perangkat navigasi. Jika bepergian dengannya sudah pasti perjalanan mereka akan menyenangkan. "Kemakmuran," panggil Kasih Sayang, "bolehlah aku ikut bersamamu?" "Tidak bisa," jawab Kemakmuran. "Perahuku sudah penuh. Berhari-hari kuhabiskan untuk memenuhinya dengan seluruh emas dan perak milikku. Bahkan hanya tersisa sedikit ruang untuk perabotan antik dan koleksi seni. Tidak ada ruang untukmu disini." Kasih Sayang memutuskan untuk minta tolong kepada Kesombongan yang sedang lewat didepannya menaiki perahu yang unik dan indah. "Kesombongan, sudikah engkau menolongku?" "Maaf, " kata kesombongan. "Aku tidak bisa menolongmu. Tidakkah kau lihat sendiri? Kamu basah kuyup dan kotor. Coba bayangkan, betapa kotornya dek perahuku yang mengilat ini nanti jika kamu naik." Lalu Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang berusaha sekuat tenaga mendorong perahunya ke air. Kasih Sayang meletakkan tangannya ke buritan kapal dan membantu Pesimisme mendorong perahunya. Pesimisme mengeluh terus menerus. Perahunya terlalu berat, pasirnya terlalu lembut, dan airnya terlalu dingin. Sungguh hari yang tidak tepat untuk melaut. Peringatan yang diberikan mendadak sekali, dan pulau ini tidak seharusnya tenggelam. Mengapa semua kesialan ini terjadi padanya? Mungkin dia bukan teman seperjalanan yang menyenangkan. Situasi Kasih Sayang sudah sangat kepepet. "Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?" "Oh, Kasih Sayang, engkau terlalu baik untuk berlayar denganku. Sikapmu yang penuh perhatian bahkan menjadikanku merasa lebih bersalah dan tidak keruan. Bayangkan, seandainya ada ombak besar yang menghantam perahu kita dan engkau tenggelam. Bagaimana menurutmu perasaanku jika itu terjadi? Tidak, aku tidak bisa mengajakmu." Salah satu perahu yang dilihat terakhir kali meninggalkan pulau adalah Optimisme. Dia tidak percaya dengan segala omong kosong tentang bencana dan hal-hal buruk, yaitu bahwa pulau ini akan tenggelam. Seseorang akan mampu berbuat sesuatu dan sebelum pulau ini benar-benar tenggelam. Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme terlalu sibuk menatap kedepan dan memikirkan tujuan berikutnya sehingga dia tidak mendengar. Kasih Sayang berteriak memanggilnya sekali lagi, tetapi bagi Optimisme tidak ada istilah menoleh kebelakang. Dia sudah meninggalkan masa lalu dibelakang, dan berlayar menuju masa depan. Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara, "Ayo, naiklah keperahuku." Kasih Sayang merasa begitu lelah dan letih sehingga dia meringkuk diatas perahu dan langsung tertidur. Dia tertidur sepanjang perjalanan sampai nakhkoda kapal mengumumkan bahwa mereka telah sampai ditanah kering dan dia bisa turun. Dia begitu berterimakasih dan gembira karena perjalanannya berjalan aman sehingga dia berterimakasih kepada sang nakhoda dengan hangat, kemudian meloncat kepantai Soul Island. Dia melambaikan tangannya ketika pelaut itu meneruskan perjalanannya. Baru pada saat itulah dia sadar kalau lupa menanyakan nama nakhoda itu. Ketika dipantai dia bertemu dengan Pengetahuan dan bertanya,"Siapa tadi yang menolongku?" "Itu tadi Waktu"jawab Pengetahuan. "Waktu?" tanya Kasih Sayang, "Mengapa hanya Waktu yang mau menolongku ketika semua orang tidak mau mengulurkan tangan?" Pengetahuan tersenyum dan menjawab,"Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang." Mungkin dalam hidup kita juga keadaan seperti ini pernah kita lihat atau rasakan sendiri, ketika kita menghadapi masalah yang sangat rumit dan mungkin kita sudah menyerah secara manusia namun tanpa kita sadari kita bisa melewati dan keluar dari masalah tersebut, Atau barangkali kita membangun hubungan dengan seseorang dan banyak mendapatkan berbagai masalah yang menguji kasih sayang kita terhadap pasangan kita; namun yang bisa menjelaskan semua teka-teki itu hanyalah Sang Waktu. Dan kita juga pernah berkata biarlah "Waktu" yang menjawab semua ini, biarlah waktu yang berbicara. Kita menginginkan sebuah harapan, muzizat yang diberikan sang waktu. Memang, sang waktu begitu berperan dalam hidup kita tetapi terkadang kita lupa akan waktu yang kita jalani dan terkadang juga kita menyia-nyiakannya begitu saja. Padahal dengan waktulah kita bisa menikmati hari-hari kita sedemikian rupa hingga sebuah Syair indah pernah terdengar sungguh indah ditelingaku " Kasih sayangku takkan pernah lekang oleh waktu" dan bagi saya ini cukup membuat bulu perinduku merinding dan mengharukan. Yah.....yah.....yah.....Tak lekang oleh waktu..kalau tidak salah lagu ini populer oleh Kerispatih.Semogalah juga hanya waktu yang bisa menjawab perasaan yang kamu miliki sekarang ini dan biarkan waktu yang berbicara karena untuk segala sesuatu ada waktunya; jika masanya bahagia telah tiba maka berbahagialah.Sincerelly, Saem Manuelle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KASIH IBU SEPANJANG MASA

ONLY ME WHO DID IT?