Parodi Sejarah Negeriku

oleh Mario P. Manalu (Editor Di PT Kiranatama Lestari ) pada 5 Juli 2012 pukul 23:18 ·Bidaracina Cawang -JATINEGARA
"Objektivitas historis bukanlah rerkonstruksi masa lalu yang tak terulang, melainkan rekonstruksi masa lalu dalam terang masa kini"--Max Shceiller-- Sejarah memerlukan peristiwa. Peristiwa memerlukan tokoh. Dan tokoh harus tewas dalam peristiwa. Dengan cara itu, sejarah diulang-ulang dan tokoh diingat-ingat. Mengulang dan mengingat harus menimbulkan ”sensasi politik” agar dapat menghasilkan ”ketagihan historis”. Sensasi itu bernama ”perjuangan” dan pelembagaannya bernama ”kepahlawanan”. Arsip nasional adalah tempat sensasi politik disimpan. Begitulah, secara rutin itu dibuka dan rutinitas itu justru menghambarkan sensasinya. Namun, ritus harus berlanjut karena negara memerlukan masa lalu. Kepahlawanan lalu menjadi rutinitas politik kebangsaan, tetapi ritusnya tidak menghasilkan imajinasi kebudayaan. Yang terasa hanya semacam ”perang tarif” politik dalam menentukan siapa, kapan, dan untuk apa sebuah lencana kepahlawanan dianugerahkan. Dagangan politik Ketagihan historis adalah candu kekuasaan. Ia mengikat masyarakat di tiang politik masa lalu dan mengatur ruang sejarah dari titik itu. Akibatnya, ruang sejarah menjadi terbatas, sebatas jumlah peristiwa yang memiliki ”tokoh”. Mengingat politik yang mendefinisikan syarat-syarat menjadi ”tokoh”, maka arsip nasional tidak lain adalah arsip politik. Dalam konstruksi semacam itu, kepahlawanan tak lagi menjadi ”ruang hening cipta” untuk meluaskan batin kemanusiaan, tetapi berubah menjadi ”pasar tumpah” yang hiruk-pikuk oleh berbagai dagangan politik. Gejala ”kecanduan pahlawan” menumbuhkan industri politik baru: upacara, tanda jasa, biografi, proposal seminar, pidato, puisi, film, talk show, iklan politik, dan doa-doa. Di sini, produk sejarah dan produk kebudayaan massa bercampur dalam pasar yang sama: demagogi! Begitulah ”sang pahlawan” tewas untuk kedua kali: bukan di medan perang, tetapi di medan makna! Persoalan kita memang ada di sini. Kepahlawanan selalu disimpan dengan password politik. Padahal, sebuah makna semacam ”kepahlawanan” seharusnya disimpan dalam folder sejarah sosial yang terbuka, tanpa password, agar ia dapat diakses oleh beragam imajinasi. Dengan cara ini, ruang sejarah dapat meluas dan kita bertumbuh dalam pengalaman kebudayaan yang inklusif, lega, dan sugestif bagi pendidikan kemanusiaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KASIH IBU SEPANJANG MASA

ONLY ME WHO DID IT?