Gadis Batak Cantik, Manis dan Baik Semakin Seksi Ketika Berbahasa Batak dengan Lembut dan Ramah
Besar di luar Bonapasogit, yang membuat pergaulan dengan berbagai etnis dan agama sejak kecil lumayan mengenal cewek-cewek cakep dan manis dari berbagai etnis seperti Aceh, Sunda, Manado, Jawa dan beberapa etnis keturunan yang memang terkenal cantik di Indonesia, begitu juga boru Batak yang besar di perantauan yang cantik tetapi tidak fasih berbahasa Batak.
Sebagai lelaki normal tentulah berdecak kagum, dan terkadang gerogian abila bertemu cewek cantik manis baik ramah, dengan aroma tubuh dan kulit yang mulus yang memang harum diselimuti parfum mahal trend anak gadis luar bonapasogit atau besar di perantauan.
Tetapi gadis-gadis itu tidak serta merta membuatku jatuh cinta atau ada rasa ingin memiliki, hanya sekedar kagum dan hasrat sebagai seorang lelaki normal.
Suatu ketika ku bertemu dengan cewek Batak yang cantik, manis dan lembut, harum dan ramah berpakaian casual dan layaknya anak kota cocok dengan kulitnya yang mulus dengan logat Bahasa Batak yang fasih menyapaku di salah satu perapatan di kota Medan.
“Horas ito, naek aha do tahe molo sian siantar tu Porsea?” tanya si ito. ” Oh, ahu pe ito naeng tu toba do, molo aha rap ma hita”, sahutku dengan cepat, jujur saja begitu melihat ito tersebut terkejut juga, karena sebelumnya mengira bukan boru Batak.
Sepanjang perjalanan kami pun banyak bercerita tentunya dengan bahasa Batak mulai pengalaman-pengalaman dan ternyata itoan ini belum menikah alias masih sendiri tapi saat itu tidak menanya dengan dalam takut di bilang SKSD atau Sok Kenal Sok Dekat. Perjalanan itu membuat rasa letih dan kantuk tidak ada terasa sama sekali, kata-kata, “ah, ito,” , “ndang songon ni itonan” dengan lembut mengingatkanku pada Ibuku yang dengan lembut mengingatkanku dan merayuku dengan kata-kata itu. Lucu dan menggelitik memang kok seperti bicara dengan Ibuku. Saat itu akupun seperti di awang-awang, terbang ke langit ke tujuh mencium aroma tubuh dan nafas yang begitu harum.
Perjalanan itu pun tanpa disadari sampai di tujuan, si ito yang turun di Porsea juga kampung asal ibuku, dan aku pun melanjutkan perjalanan karena tujuanku ke Laguboti kampung dan asal dari Bapakku. Sesampainya di rumah, dengan kesal “ah..kok lupa pulak aku minta no hp nya.. sial-sial !!!” ketusku dengan terduduk lemas sambil pegang kening dan menutup mata tetapi tersenyum karena ingat wajah dan ucapan-ucapan si ito.
Bebarapa hari berikutnya aku pun berkunjung ke kampung ibuku, ke tempat kakak dari ibu dan tulang yang ada di daerah porsea. Tak disangka, aku pun bertemu dengan ito ketika bersama dengan seorang tulang ikut ke salah satu partangiangan, ah..betapa senangnya hatiku, dengan seribu langkah aku salam ito yang baik itu, ito itu pun menyambutku dengan senyuman dan tawa kecilnya, “Bah..na dison do ito?, ise dongan ni ito?” tanya si ito, “tulang ito” jawabku.
Partangiangan pun dimulai hingga selesai, kebiasaan di kampung rupanya selesai acara ada makan bersama. Dengan santai aku menunggu hidangan apa yang akan disajikan, lagi-lagi hatiku bergetar ketika si ito sebagai penyaji hidangan, memakai sarung khas boru Toba, berlutut menyajikan makanan dan minuman sembari tersenyum menyajikan makanan dan minuman. Acara pun usai kami sedikit berbincang dan pulang ke tempat masing-masing walau hati ini tak sudi rasanya berpisah.
Beberapa hari di Porsea aku pun mulai bertanya kepada keluarga dan orang-orang di kampung siapa ito tersebut. Dan ternyata mereka kenal, sungguh senang dapat alamat, ditambah lagi cerita orang kampung dan keluarga tulang kalau ito yang ternyata mereka kenal itu dengan baik adalah seorang boru Batak yang baik dan memang dari keluarga yang ramah dan disegani dikampung itu.
Sejak saat itu aku pun mulai sering memasang siasat bagaimana agar bisa bertemu dengan si gadis tersebut, bahkan suatu ketika saya pernah pura-pura lewat rumahnya hanya untuk melihat, dan rupanya ketahuan dan dipanggil oleh ito tersebut. Dengan sedikit linglung dan rasa malu karena memang sedikit mondar- mandir di depan rumahnya ketika mengintai ito yang manis itu. Kembali panjang cerita, ternyata si ito hanya berlibur dan akan kembali ke tempat kerjanya di pulau Jawa, hari itu aku memberanikan menanyakan si ito apakah sudah memiliki calon pendamping, dan dengan sedih si ito menjawab “sudah” dan dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan. Aku pun merasa sedih walaupun wajahku tidak sedikitpun memperlihatkannya karena setiap percakapan selalu disertai tawa dan canda yang dihadirkan ito yang memang pintar menjaga perasaan itu.
Aku sedih tetapi bangga bisa mengenalnya, dan selalu mendoakannya agar bahagia. Kesimpulan pun ku ambil bahwa “jodoh” memang di atur Tuhan kita hanya berusaha dan ternyata kalau ada gadis Batak yang manis, cantik, ramah, baik dan pintar tahu bertutur sapa dengan menggunakan bahasa Batak yang lembut semakin menambah “keseksiannya” serta mampu mengalahkan keramahan gadis-gadis asal Indonesia yang terkenal ramah seperti Sunda, Jawa, Menado dan lain-lain.
••••••••••••••••••••
Sepenggal cerita yang judulnya tidak begitu klop dan pola penulisan narasi yang tidak begitu sempurna, tetapi kisah ini hanya sebuah imajinasi saja dari seorang Batak yang lahir di perantauan dan mencintai dan Bangga sebagai orang Batak ketika beranjak dewasa.
Komentar
Posting Komentar